Anggota Baru Teater Djati Suguhkan Lakon “Bila Malam Bertambah Malam”

Unit Kegiatan Mahasiswa Fakultas (UKMF) Teater Djati Fakultas Ilmu Budaya Universitas Padjadjaran menyelenggarakan pementasan teater berjudul “Bila Malam Bertambah Malam”. Pementasan yang mengangkat naskah karangan Putu Wijaya ini diselenggarakan di Aula Pusat Studi Bahasa Jepang (PSBJ) FIB Unpad, Rabu (28/3).

 

Pementasan ini termasuk ke dalam tahapan kaderisasi yang harus dihadapi oleh Calon Tunas Djati 16 sebelum disahkan sebagai anggota Teater Djati. Pementasan kali ini disutradai oleh Alfin Mochamad. Yang menarik dari pementasan kali ini adalah penulis naskah “Bila Malam Bertambah Malam” Putu Wijaya telah mengetahui dan memberikan restu atas pementasan lakon ini. Penonton pun memenuhi Aula PSBJ bahkan hingga ke lantai dua. Penonton berdatangan dari sivitas akademika Unpad, orang tua, hingga komunitas dan penikmat kesenian teater.

Pada pementasan persembahan Calon Tunas Djati 16 ini, penonton seakan diajak untuk menyusuri pulau Dewata dengan kentalnya budaya Bali pada dekorasi, musik latar, tarian-tarian, dan lakon dari para pemain. Berlatar belakang waktu pada tahun 1960-an, “Bila Malam Bertambah Malam” bercerita tentang pengkhianatan seorang pejuang Perang Puputan dan cinta segitiga Nyoman, Ngurah, dan Sagung Rai. Lakon “Bila Malam Bertambah Malam” yang ditampilkan mengundang banyak tawa penonton dan decak kagum, terutama pada saat adegan dramatis ayah Ngurah yang ditembak mati oleh Wayan yang dieksekusi dengan membelah tempat duduk penonton; serta adegan akhir di mana Sagung Rai menembak Ngurah dan kemudian menembak dirinya sendiri di hadapan Nyoman.

Tapirala, pemeran Gusti Biang bercerita bahwa ini adalah pertama kalinya ia bermain teater sebagai salah satu peran utama. “Senang banget. Setelah tahap yang panjang dan persiapan (pementasan) selama tiga bulan akhirnya dilantik juga (sebagai anggota Teater Djati),” ungkap Tapirala.

 

Laporan oleh: Rizky Ramadhan/SA

Foto oleh: Nabila Khaerunnisa

Related Post