Digitalisasi Radio

 

Radio memiliki peran penting di Indonesia. Pada masa kemerdekaan, radio menjadi media massa yang menyampaikan berita proklamasi ke seluruh penjuru tanah air. Peristiwa penyiaran proklamasi juga menjadi penanda awal berdirinya Radio Republik Indonesia (RRI), dengan slogannya yang tidak lekang hingga sekarang; “sekali di udara, tetap di udara!”. Tidak hanya sampai di situ, eksistensi radio semakin melejit pada tahun 80 hingga 90an. Bagaimana anak muda pada zaman itu begitu menantikan lagu favoritnya diputar di radio, hingga program drama radio yang menemani para remaja setiap harinya. Mengapa radio bisa begitu digemari? Tidak lain karena radio lebih mudah didapatkan ketimbang media lain seperti televisi. Televisi baru muncul pada tahun 70an, dengan hanya satu saluran yaitu TVRI. Belum lagi harganya yang cukup mahal menjadikan televisi kurang bisa dijangkau oleh semua lapisan masyarakat. Berbeda dengan radio yang hampir dimiliki oleh semua orang. Kalau anda pernah menonton film laskar pelangi, anda tentu ingat bentuk radio yang suka dibawa oleh salah satu anak yang bernama Mahar. Ya, bentuknya persegi, tidak terlalu tebal, dan harus diisi dengan dua baterai AA ukuran besar. Bentuk lain radio yang cukup hits pada zamannya adalah radio yang menyatu dengan Walkman yang biasa digunakan oleh anak muda.

Bentuk radio terus berkembang, beriringan dengan zaman yang juga terus maju. Akan tetapi, dengan meingkatnya kecanggihan teknologi, justru peran radio semakin menurun. Radio harus bersaing dengan media-media lain yang lebih menarik, seperti televisi dan internet. Televisi mengalami perkembangan pesat pada tahun 90 hingga 2000an. Di mana muncul berbagai saluran tv swasta dan program-program yang semakin menarik. Radio pun mulai tergantikan sebagai media hiburan utama. Kini dengan hadirnya telepon pintar dan internet, peminat radio menjadi semakin berkurang.

Di antara gempuran new media, radio terus berusaha untuk memperbaharui baik tampilan fisik maupun program-program didalamnya. Salah satu bentuk perubahan yang dilakukan radio adalah dengan bertransformasi ke bentuk digital. Saat ini rata-rata radio sudah memiliki layanan streaming, mulai dari radio swasta hingga nasional. Dengan maraknya radio yang mengembangkan dalam bentuk digital, Radio Unpad hadir sejak awal dalam bentuk digital, tidak hanya dapat dinikmati melalui laman www.radio.unpad.ac.id, penguatan ini terlihat dengan telah diluncurkannya aplikasi Radio Unpad yang bisa dinikmati melalui google play store pada perayaan ulang tahun ke 6 Radio Unpad bulan Februari 2018. Selain bisa mendengarkan berbagai program Radio Unpad yang tengah mengudara, pendengar juga bisa mendapatkan informasi melalui artikel hasil liputan para VJ Radio Unpad dari event-event hasil kolaborasi dengan berbagai pihak.

Radio Unpad bisa dinikmati di manapun dan kapanpun, tidak terbatas pada radius frekuensi gelombang saja. Radio dengan konsep digital semakin praktis karena bisa diakses melalui telepon pintar yang terhubung dengan internet. Selain memudahkan akses, radio digital juga tidak terpengaruh oleh cuaca karena layanan streaming hanya bergantung pada seberapa kencang internet pendengar. Kedua hal inilah yang menjadi kekuatan utama radio digital. Dengan bergesernya radio ke konsep digital, diharapkan mampu menjawab tantangan untuk selalu terjaga eksistensinya terhadap gempuran berbagai media.

 

*****

 

Laporan oleh: Caterina Sulistiyahati /SA

Related Post