Hustle Culture, Is Motivating or Toxic?

Hustle Culture, Is Motivating or Toxic? post thumbnail image

Sivitas pasti pernah bertemu dengan seseorang yang senang bekerja hingga tidak sempat beristirahat, atau mungkin Sivitas sendiri? Kondisi itu disebut juga dengan hustle culture. Budaya tersebut seringkali terjadi pada generasi muda, khususnya mahasiswa.

Apa itu Hustle Culture?

Hustle Culture merupakan suatu cara hidup di mana seseorang merasa perlu untuk terus bekerja keras dan beristirahat hanya sebentar sehingga mereka dapat menganggap dirinya sukses. Berapa orang menyebut gaya hidup ini sebagai “workaholic”.

Fenomena Hustle Culture pertama kali ditemukan pada tahun 1971 dan menyebar dengan cepat terutama di kalangan milenial. Fenomena ini membuat seseorang percaya bahwa aspek terpenting dalam hidup adalah mencapai tujuan karir dengan bekerja keras secara terus menerus.

Di Usia Berapa Hustle Culture Terjadi?

Meski seringkali mengacu pada orang dewasa dan sudah bekerja, rupanya budaya ini juga menghinggapi para mahasiswa, loh, Sivitas. Terlebih, bagi mereka yang merasa memiliki banyak tugas dan jurusannya cukup berat. Sehingga, jika ditanya pada usia berapa budaya ini bisa muncul? Maka jawabannya cukup abu-abu.

Hustle culture pada mahasiswa dilakukan dengan mengikuti berbagai ekstrakulikuler dan himpunan mahasiswa di kampus. Adapun beberapa alasannya adalah untuk menambah pengalaman dan relasi baru.

Penyebab Hustle Culture

  1. Munculnya Toxic Positivity dari Sekitar
    Toxic positivity dapat didefinisikan sebagai keinginan untuk mempertahankan asumsi positif bahkan dalam situasi stres. Anggapan ini seringkali datang dari hati atau perkataan orang-orang di sekitar kita.
  2. Teknologi yang Semakin Canggih
    Kemajuan teknologi merupakan salah satu alasan mengapa budaya ini menyebar begitu cepat. Ponsel pintar yang Anda miliki tidak hanya digunakan untuk komunikasi tetapi juga untuk bekerja.
    Namun, tanpa disadari berbagai kemudahan ini juga dapat membuat seseorang terus bekerja. Kemudahan dalam bekerja inilah yang mendorong generasi muda untuk bekerja sepanjang waktu terlepas dari kesehatan mereka.
  3. Pengaruh Konstruksi Sosial
    Tidak dapat disangkal bahwa masih banyak orang yang percaya, kriteria sukses dalam hidup adalah posisi yang tinggi dalam pekerjaan dan memiliki banyak uang. Semakin cepat dan tinggi karir seseorang, maka semakin tertata kehidupannya. Padahal, tingkat kesuksesan seseorang itu berbeda-beda, bukan?

Dampak Negatif Hustle Culture

  • Resiko terkena penyakit lebih tinggi
  • Stres berlebihan
  • Mengalami burnout berkepanjangan
  • Tidak memiliki waktu untuk kesenangan pribadi
  • Tidak bisa mencapai keseimbangan hidup

Lalu, bagaimana cara menghindarinya?

  • Jangan membandingkan diri dengan orang dari media sosial

Salah satu sumber tekanan yang menciptakan hustle culture itu sendiri adalah media sosial. Semua orang ingin terlihat sukses dan mapan dengan pekerjaannya, lalu dengan bangga memamerkan bekerja tengah malam atau di akhir pekan, dan sebagainya.

Nah, jangan bandingkan dirimu dengan mereka atau bahkan membuat ekspektasi lebih terhadap diri sendiri hanya karena orang lain melakukan hal tersebut.  Setiap orang punya pace masing-masing, jangan takut terlihat tidak sukses atau terlambat mencapai posisi yang “seharusnya” dicapai.

  • Cari hobi di luar pekerjaan

Dilansir dari New York Times, mencari waktu luang untuk menjalani hobi dan apa pun itu yang dicintai bisa buat hidupmu lebih seimbang. Istilah yang mungkin lebih familiar untukmu, work-life balance. Jangan biarkan pekerjaan memakan seluruh waktu dan hidupmu. Namun, jangan terlalu leyeh-leyeh juga. Carilah titik paling seimbang di tengah-tengah.

  • Tahu batasan diri

Cara terakhir untuk menghindari terjebak dalam hustle culture adalah mengetahui batasan diri dan membuat batasan yang jelas. Tahu kapan harus bilang tidak dan berani untuk mengatakannya. Tahu kapan badan sudah meminta untuk istirahat, tahu kapan bisa diajak bekerja keras.

Intinya, jangan sampai memaksakan diri hanya karena ingin memenuhi standar yang bisa dibilang tidak manusiawi.

Hustle culture adalah budaya yang bisa pelan-pelan dihilangkan, kalau tiap orang bisa membatasi diri dan menghargai orang lain. Dengan melakukan itu, setidaknya kamu dapat menghargai bahwa tiap orang punya kehidupan di luar pekerjaan dan berhak untuk menjalaninya. 

Lagi pula, yang paling penting kamu mencapai target yang dibuat dan mengerahkan tenaga semaksimal mungkin, kan?

Related Post