Ngaseuk, Ritual Adat Terbesar di Kasepuhan Ciptagelar

Sabtu, 10 Oktober 2020, diselenggarakan kegiatan The 6th Connection IPB University 2020: Global Energy of Local Wisdom for New Normal Era. Kegiatan ini merupakan event tahunan dari Himpunan Mahasiswa Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat (Himasiera) Universitas Pertanian Bogor (IPB). The 6th Connection dilaksanakan secara virtual melalui platform streaming online, yaitu Youtube, Instagram, dan juga Website Connection di Connection.skpm.ipb.ac.id. Sebelum dilaksanakannya acara puncak, The 6th Connection telah menyelanggarakan dua kegiatan pra-event, yaitu Reswara Competition yang merupakan kompetisi fotografi dan vlog serta Virtual Exhibition 3D yang menampilkan hasil dari kedua perlombaan tersebut.     

Kegiatan dipandu langsung oleh M.Aldrian dan juga Lu’lu Firdaus yang merupakan mahasiswa dari departemen SKPM IPB University.  Dengan mengangkat isu kearifan lokal di era pandemi, The 6th Connection 2020 berhasil memberikan pengalaman baru berupa pelaksanaan secara virtual yang dikemas dengan sangat apik dan menarik. Di awal acara kita disuguhkan dengan live report dari daerah Kasepuhan Ciptagelar, Sukabumi, Jawa Barat yang diambil sebagai objek utama dalam tema kearifan lokal di tengah pandemi.  Nafiya Salsabila, selaku reporter yang turun langsung, menuntun seluruh peserta untuk dapat melihat situasi di Kasepuhan Ciptagelar pada masa pandemi. Selain itu, Nafiya dan tim juga berkesempatan untuk meliput ritual adat terbesar di Kasepuhan Ciptagelar yang disebut dengan ngaseuk. Ritual terbesar ini dijelaskan secara rinci oleh Kepala kesenian dari Kasepuhan Ciptagelar, Ki Jarna Wijaya. Ritual ngaseuk sendiri dilaksanakan secara rutin, yaitu sekali setiap tahunnya karena merupakan ritual sebelum menanam padi. Bagi masyarakat adat, ngaseuk memiliki simbol atau makna, yaitu di mana kita bekerja kita dapat menikmati hasil kerja kita (memakan nasi).

“Kegiatan ini memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk dapat mengekspresikan kemampuannya di dalam berkomunikasi dan memperkenalkan keragaman budaya yang ada di Indonesia.” ujar Prof. Dr. Ir. Ujang Sumarwan, M.Sc., selaku Dean of Faculity of Human Ecology, saat membuka acara.

The 6th Connection juga turut diramaikan dengan pelaksanaan giveaway bagi para pesertanya, hal ini menjadikan kegiatan Connection tahun 2020 lebih interaktif meskipun dilaksanakan secara online. Di acara puncak ini, Connection 2020 juga melaksanakan kegiatan talkshow yang membahas mengenai kearifan lokal dengan narasumber yang beragam, yaitu Bayu Eka selaku pengajar dari SKPM IPB, Annas R. Syarif dariAliansi Masyarakat Adat Nusantara, Kang Yoyo selaku pembicara dari Kasepuhan Ciptagelar, dan Karin Novilda atau Awkarin yang merupakan seorang influencer.

Dalam pembahasannya, Kang Yoyo memberikan pandangan dari dalam Kasepuhan Ciptagelar terkait dengan adanya pandemi Covid-19. “Itulah yang menjadikan rame, kalau di luar, kalau di sini cuman kebagian dongeng nya” sahut Kang Yoyo Ketika ditanya bagaimana penerimaan tentang virus Covid-19 pada masyarakat adat. Kegiatan ngaseuk yang merupakan ritual adat terbesar menjadi bekal bagi masyrakat adat dalam menghadapi keadaan krisis seperti di masa pandemi ini. Ketika orang – orang di kota melakukan panic buying untuk memenuhi kebutuhan pangan, masyarakat adat telah memiliki bekal masing – masing karena mereka mempunyai kewajiban untuk menanam padi bagi diri mereka sendiri, baik itu si kaya maupun si miskin. Keseimbangan merupakan point penting yang disampaikan Kang Yoyo sebagai sudut pandang dari masyarakat adat Kasepuhan Ciptagelar dalam melawan Covid-19, masyarakat adat berhasil memanfaatkan sumber daya lokal dengan membentuk kelembagaan yang mengatur hal tersebut.

The 6th Connection diakhiri dengan kegiatan talkshow special bersama dengan Karin Novilda atau Awkarin. Masih dengan pembahasan adat dan budaya, Karin menyampaikan kesenangannya dalam kegiatan berkeliling Indonesia, tidak hanya itu ia juga menyampaikan keresahannya terhadap moderninsasi yang kian cepat. Karin mengaku bahwa jejak sejarah sangat dibutuhkan bagi Indonesia. “Dokumentasi merupakan hal yang penting dalam melestarikan adat dan budaya serta kearifan lokal,” paparnya.

Karin Novilda (kanan) Saat Berbagi Pengalamannya seputar Adat dan Budaya

 “Saya berharap dengan dilaksanakannya acara ini, kita dapat mengetahui bagaimana kita harus mencintai Indonesia, bagaimana kita harus melestarikan masyarakat adat, serta bagaimana kita harus bersama – sama secara sinergi melalui kearifan lokal dan masyarakat adat untuk dapat membangun Indonesia menjadi lebih baik lagi.” Ujar  Yesa Diansari, selaku Chief Executive of The 6th Connection

Ditulis oleh: Voniqa Roolutfah Kamiella /SA

Related Post