Kisah Padpals.id, Sang Pengubah Limbah Jadi Sahabat Lingkungan

Permasalahan sampah, khususnya sampah menstruasi, seringkali luput dari perhatian publik. Akan tetapi, jutaan pembalut dan produk menstruasi lainnya berakhir di tempat pembuangan sampah dan jarang sekali mendapat sorotan tentang betapa banyak sampah yang dibuat dari itu. Tanpa disadari, limbah menstruasi menyumbang tumpukan sampah yang sulit terurai dan berpotensi mencemari tanah serta air.

Di Indonesia, terdapat sekitar 67 juta perempuan usia subur yang menggunakan sekitar 1,4 miliar pembalut sekali pakai setiap tahunnya. Oleh karena itu, terbentuk sekitar 26 ton limbah pembalut per hari, yang mengandung darah dan tersusun dari polimer yang sulit terdegradasi. Alasan mengapa pembalut sulit untuk didegradasi karena sifat non-degradable seperti PE (Polyethylene), PP (Polypropylene), SAP (Super Absorbent Polymer), dan juga selulosa pulp yang bisa tahan terhadap degradasi alami. 

Maka, atas inovasi yang dihasilkan dari kreativitas mahasiswa Universitas Padjadjaran yang berasal dari Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam dan juga Fakultas Teknologi Industri Pertanian, telah terlahir PadPals yang hadir untuk menyelamatkan dunia yang sudah melemah. Semua perempuan ini peduli mengenai hal yang sama, yaitu pencemaran yang dihasilkan dari limbah pembalut yang sering dianggap sepele. Telah terbukti kalau pembalut membutuhkan 500-800 tahun untuk terurai dan solusi yang biasanya digunakan adalah untuk dibakar atau dibuang sembarang. Oleh karena itu, limbah pembalut tersebut telah mencemari tanah dan air. 

Secara realitas, terdapat banyak alternatif yang bisa digunakan untuk mengurangi penggunaan pembalut, seperti menggunakan menstrual cup atau pembalut kain. Akan tetapi, solusi yang diberikan oleh PadPals merupakan suatu alternatif yang bisa digunakan untuk membuang pembalut dengan cara yang lebih bersih dan ramah lingkungan. 

Dari keresahan sebagai perempuan, empat wanita asal Universitas Padjadjaran yang bernama Kayyisah Amani (Biologi), Tasnim Mumtaza (Teknologi Pangan), Felisya Ataya Islami (Biologi), Karina Deswita Triandini (Kimia), dan ditemani Asri Peni Wulandari, Ph.D selaku dosen pembimbing, telah memberanikan diri untuk mengikuti PKM-K dan membagikan inovasi yang telah mereka temukan. Pada akhirnya, PadPals telah lahir dan terjadi produk yang berdaya guna dan memberikan kontribusi terhadap lingkungan. 

Kayyisah Amani (Biologi), Tasnim Mumtaza (Teknologi Pangan), Felisya Ataya Islami (Biologi), Karina Deswita Triandini (Kimia) selaku pendiri PadPals

Awalnya, mereka ditawarkan oleh dosen untuk mengikuti lomba Program Kreativitas Mahasiswa Kewirausahaan (PKM-K) dan harus mencari inovasi. Awalnya, dosen pembimbingnya menolak ide-ide mereka, seperti “bubuk penjernih minyak jelantah“ dan “permen penghilang kantuk” karena dianggap sudah biasa. Dari beberapa ide yang mereka yang anggap kurang oleh dosen pembimbingnya, mereka menyadari bahwa perempuan sering sekali menggunakan dua lapis plastik untuk membuat pembalut: plastik hitam kresek untuk membuang pembalutnya. Kebiasaan ini memicu masalah lingkungan yang sangat krusial terkait limbah pembalut. Fokus PadPals kembali untuk pengelolaan pascapakai karena mengingat kembali kalau produk dari PadPals berfokus pada pembuatan pembalut organik. Hadir PadPals untuk memberikan solusi yang praktis tanpa menimbulkan kekhawatiran bagi penggunanya. 

“Sampah pembalut sering kali diabaikan karena dianggap masalah personal wanita. Kami berharap dengan produk kami, kami bisa mengurangi jumlah limbah pembalut dan meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya pengelolaan sampah yang bertanggung jawab.”, langsung disampaikan oleh Kayyisah selaku ketua dari program PadPals PKM-K ini.

Keunikan dari produk PadPals adalah dari penggunaan dua mikroba: jamur Aspergillus niger, yang biasa ditemukan di tempe, dan juga bakteri bacillus subtilis. Berdasarkan studi literatur, kedua mikroba ini terbukti dapat mendegradasi pembalut hingga setengahnya dalam  tiga bulan, dan terurai sepenuhnya dalam enam sampai tujuh bulan. Bubuk mikroba ini dibuat di laboratorium menggunakan alat spray dryer yang mengubah mikroba cair menjadi bubuk. 

Mereka melewati uji coba produk untuk membuktikan hipotesis bahwa mikroba ini benar-benar bisa mendegradasi pembalut. Proses uji coba ini memakan waktu sekitar satu bulan, dan hasilnya menunjukkan bahwa mikroba tersebut efektif untuk mengurai pembalut, bahkan lebih cepat dari studi literatur yang tertera. 

Proses PadPals dimulai sejak bulan Juli ketika dimulai pendanaannya. PadPals ini sempat memiliki booth di Penerimaan Mahasiswa Baru (Prabu) Unpad dan pada saat itu, produk mereka masih dalam tahap showcase karena belum siap untuk dijual. Namun, sekarang PadPals sudah mulai berjualan secara rutin dan berhasil menjual lebih dari 150 box ke berbagai daerah Indonesia, mulai dari Sulawesi, Kalimantan, hingga Sumatera. 

Produk yang dijual oleh PadPals

Ketidakpercayaan diri sepantasnya muncul akibat mindset orang Indonesia yang kurang peduli dengan lingkungan, terutama dalam pembuangan sampah. PadPals bisa memastikan kalau produk mereka diminati pasar karena merupakan inovasi pertama di Indonesia yang berfokus pada pengelolaan limbah pembalut pascapakai yang sudah mencapai penjualan yang tinggi. Bisa dilihat kalau memang ketidakpedulian tersebut dikarenakan belum ada produk yang memadai pembuangan sampah tersebut, maka pembeliannya menunjukkan bahwa ada kebutuhan di masyarakat terhadap produk ini. 

PadPals tidak hanya mengandalkan inovasi produknya, tetapi juga aktif melakukan edukasi publik melalui media sosial. Konten mereka di Instagram sudah ada yang mencapai sekitar 160 ribu likes, sementara di Tik Tok mencapai hampir 2 juta penonton. Hal ini menunjukan bahwa isu limbah pembalut mulai mendapatkan perhatian masyarakat, dan banyak yang tertarik dengan solusi yang ditawarkan oleh PadPals.

Disampaikan oleh Kayyisah, “Satu langkah kecil kita bisa berarti besar buat lingkungan. Produk kami, PadPals, bisa diakses di Shopee dan TIktok. Dengan membeli produk kami, kalian tidak hanya mendukung usaha kami, tetapi juga ikut berkontribusi dalam menjaga lingkungan. Kami berharap orang-orang di luar sana bisa lebih peduli terhadap sampah yang mereka hasilkan, sekecil apapun itu.” 

Kehadiran PadPals menunjukkan bahwa inovasi kecil dari keresahan sehari-hari dapat membawa perubahan besar. Produk ini tidak hanya mengurangi dampak negatif limbah menstruasi terhadap lingkungan, tetapi juga membuka ruang diskusi publik tentang isu yang selama ini dianggap tabu. Lebih dari itu, PadPals menjadi bukti nyata bahwa perempuan dapat menjadi agen perubahan melalui ilmu pengetahuan dan kewirausahaan.

Jika Sivitas ingin mendukung PadPals, bisa langsung saja check Instagram dan TikTok di @padpals.id. Mari Sivitas, dukung PadPals agar bisa memberi upaya yang baik untuk melindungi lingkungan! 

Wawancara bersama narasumber (Kayyisah selaku Ketua dari PadPals)

Penulis: Calista Zahra Caesariyani

Penyunting: Adya Hermawan

Related Post