Agil Rusmana berhasil meraih Juara 3 dalam ajang Business Model Canvas National Competition Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI) PT UNPAD 2026 yang diselenggarakan pada 11 Februari 2026. Kompetisi tingkat nasional yang diselenggarakan oleh HIPMI Unpad ini mengangkat tema bisnis berkelanjutan atau circular economy. Pencapaian tersebut menjadi pengalaman berharga bagi Agil untuk belajar sekaligus menguji kemampuannya dalam kompetisi Business Model Canvas tingkat nasional.
Kompetisi Business Model Canvas (BMC) ini menantang para peserta untuk menyusun kerangka bisnis yang komprehensif melalui sembilan elemen Business Model Canvas. Kompetisi ini menuntut peserta untuk memiliki ide kreatif dan mampu menyusun analisis pasar, strategi pemasaran, hingga perhitungan proyeksi keuangan yang realistis.
Kompetisi Pertama yang Menjadi Ajang Pembelajaran
Business Model Canvas National Competition HIPMI Unpad 2026 merupakan kompetisi bisnis pertama yang diikuti Agil sejak memasuki dunia perkuliahan. Meski belum memiliki pengalaman sebelumnya di bidang kompetisi bisnis, Agil memberanikan diri mencoba tantangan baru dan memanfaatkan kesempatan tersebut sebagai sarana belajar.
“Ini adalah lomba bisnis pertama yang aku ikuti sejak masuk kuliah. Jadi, kompetisi ini benar-benar jadi tempat aku belajar sekaligus menguji mental di tingkat nasional,” ujar Agil.
Ketertarikan Agil terhadap dunia bisnis bermula ketika seorang teman mengajaknya untuk mengikuti kompetisi Business Model Canvas. Meskipun menempuh studi di Program Studi Administrasi Pemerintahan yang berfokus pada birokrasi dan kebijakan publik, Agil mengambil kesempatan tersebut sebagai pengalaman baru. Keputusannya untuk terjun ke bidang yang berbeda dari latar belakang akademiknya justru membuka wawasan baru dan menumbuhkan ketertarikan yang lebih besar terhadap dunia bisnis.
“Terjun ke dunia bisnis rasanya seperti keluar dari zona nyaman. Menariknya, meskipun ini area yang baru dan berbeda banget dari apa yang aku pelajari di kelas, aku justru merasa nyaman dan menikmati setiap prosesnya,” Ujarnya.
Ide BMC EcoLarva untuk Mendukung Circular Economy
Dalam kompetisi ini, Agil bersama tim mengusung ide bisnis bernama EcoLarva, sebuah konsep bisnis berbasis circular economy yang berfokus pada pengelolaan limbah organik melalui budidaya maggot atau Black Soldier Fly. Ide ini dirancang sebagai solusi terhadap permasalahan sampah organik yang masih menjadi tantangan di berbagai daerah.
“Prosesnya panjang dan bertahap. Dari hulu ke hilir semuanya dimanfaatkan, mulai dari pengelolaan maggot, limbah sisa berupa biofrass atau kasgot, sampai akhirnya diolah lagi menjadi produk bernilai jual seperti pupuk organik cair,” jelasnya.
Gagasan Ecolarva lahir dari proses riset dan diskusi mengenai permasalahan penumpukan sampah organik. Tim berupaya memahami permasalahan pengelolaan sampah organik sekaligus mencari pelung bisnis yang dapat memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan secara berkelanjutan. Dari proses tersebut, tim melihat potensi besar budidaya maggot sebagai bagian dari sistem pengolahan limbah dan peluang untuk menciptakan ekosistem bisnis yang terintegrasi dan bernilai ekonomis tinggi.
Tantangan dalam Menyusun Model Bisnis
Selama mengikuti kompetisi, Agil menghadapi berbagai tantangan, Menurutnya, tantangan terbesar selama mengikuti kompetisi adalah proses adaptasi dan penyusunan konsep bisnis. Sebagai peserta yang baru pertama kali terjun di lomba bisnis, Agil harus mempelajari banyak hal dari awal, mulai dari istilah bisnis, analisis pasar, hingga penyusunan aspek finansial dalam Business Model Canvas.
Tantangan lainnya adalah konsep circular economy membutuhkan alur logika bisnis yang matang agar juri yakin bahwa ide Ecolarva ini dapat terealisasikan. Oleh karena itu, tim harus mampu membangun alur bisnis yang logis, berkelanjutan, dan memiliki potensi untuk direalisasikan.
Meskipun berangkat dari latar belakang non-bisnis, Agil justru mampu menghadirkan perspektif yang berbeda dan menjadi pelengkap bagi timnya. Perbedaan latar belakang tersebut menjadi nilai tambah dalam proses diskusi karena memungkinkan tim untuk mengembangkan ide Ecolarva.
Lomba BMC Membantu Agil Keluar dari Zona Nyaman
Bagi Agil, pengalaman mengikuti kompetisi ini memberikan pelajaran penting tentang keberanian mencoba hal baru dan keluar dari zona nyaman. Ia membuktikan bahwa keterbatasan pengalaman bukan menjadi penghalang untuk berkembang dan berprestasi.
Melalui proses persiapan hingga pelaksanaan kompetisi, Agil belajar menghadapi tantangan, bekerja sama dalam tim, serta mengembangkan kemampuan berpikir kritis dan pemecahan masalah. Pengalaman tersebut membuatnya lebih percaya diri untuk mengambil peluang yang sebelumnya tidak sesuai dengan latar belakang studinya .
Melalui pencapaiannya di Business Model Canvas National Competition HIPMI UNPAD 2026, Agil berharap semakin banyak mahasiswa berani mengeksplorasi potensi diri di bidang yang belum pernah dicoba sebelumnya. Baginya, setiap tantangan baru selalu membawa kesempatan untuk tumbuh dan menemukan cara pandang yang lebih luas.*
Penulis: Catherine Lieve Leyn
Dokumentasi: Radio Unpad
Penyunting: SA

