Radio Unpad Feature Eksistensi Budaya Wastra di Era Globalisasi: Membawa Kain Wastra ke Kancah Dunia

Eksistensi Budaya Wastra di Era Globalisasi: Membawa Kain Wastra ke Kancah Dunia

Eksistensi Budaya Wastra di Era Globalisasi: Membawa Kain Wastra ke Kancah Dunia post thumbnail image

Indonesia terdiri dari beberapa gugusan pulau yang menghasilkan perbedaan budaya di tiap daerahnya. Satu di antara keanekaragaman budaya Indonesia adalah wastra, yang diartikan sebagai sehelai kain dalam bahasa sanskerta. Seorang kolektor dan pegiat kain tradisional, Monique Hardjoko, menciptakan sebuah ruang untuk mengedukasi dan mempromosikan budaya wastra melalui Rasa Wastra Indonesia. Gerakan tersebut bertujuan untuk  menanamkan pemahaman lebih dalam tentang makna dan cerita di balik keindahan setiap kain kepada masyarakat. Beliau mengungkapkan bahwa setiap songket, batik, atau tenun memiliki nama, motif yang khas, serta maknanya sendiri. Beliau merasa kain-kain tersebut patut untuk diapresiasi seperti halnya karya seni lainnya. (Nabila, 2022) 

Salah satu bentuk upaya melestarikan budaya wastra ini ditunjukkan dengan adanya tren berkain di kalangan anak muda. Di samping itu, ada hal yang berusaha Monique Hardjoko tekankan, yaitu edukasi jangka panjang kepada anak muda mengenai nilai dan tradisi, bahwa kain yang mereka kenakan bukan hanya sekadar kain yang dicetak, tetapi terdapat pesan atau makna di dalamnya. Selain meningkatnya ketertarikan anak muda Indonesia terhadap kain wastra, sebuah grup show yang dikenal dengan nama Indonesia Now, mewadahi para desainer dan jenema fashion Indonesia untuk mengikuti panggung ajang mode fashion di kancah dunia. Ajang tersebut adalah  New York Fashion Show (NYFW) The Shows – Spring Summer 2023/2024 yang telah diselenggarakan pada tanggal 13 September 2023. Gelaran tersebut menghadirkan tujuh desainer Indonesia yang membawa koleksinya dengan gagasan yang muncul dari kekayaan wastra dan kain Indonesia. 

Desainer dan jenema fashion seperti  IKAT Indonesia by Didiet Maulana, membawa koleksinya yang bertema “Wiron” diambil dari kata Wiru dalam bahasa Jawa yang berarti lipatan-lipatan kecil memanjang bersusun pada kain. Keseluruhan koleksi mewakili gerak anak muda yang semakin dinamis. Selanjutnya, LAVANI by AMERO X LIVETTE yang membawa tema “Futuristic Modern Chic” merupakan kolaborasi antara AMARO Jewellery dengan LIVETTE by Liliana Tanoesoedibjo. Membawa koleksi yang terinspirasi dari keindahan arsitektur dan makna filosofis stupa dan motif kawung pada relief Candi Borobudur. Sementara itu, Ghea Panggabean hadir dengan koleksinya yang bertema “Mamuli Sumba” yaitu interpretasi penghormatan terhadap kekuatan dan ketahanan wanita-wanita Sumba, yang menenun cerita juga warisan mereka ke dalam setiap kain dengan sepenuh hati. Sederet desainer dan jenema fashion seperti Ivan Gunawan, Kimberly Tandra, dan Merdi Sihombing juga turut hadir dan menyumbangkan koleksinya di New York Fashion Week 2024.

Penulis: Rheina Annisa Nurhidayah

Editor: Izzuddin Hamid

Related Post